Ketika Sejarah Tak Lagi Dirawat: Menatap Kesunyian di Rumah Pahlawan Cut Meutia
YPASNEWS
ACEH UTARA — Sinar matahari sore menerobos celah-celah rimbun pohon kelapa, menyiram atap rumbia sebuah rumah panggung kayu yang berdiri kokoh di pedalaman Desa Pirak, Kecamatan Pirak Timur, Aceh Utara. Di sanalah, berpuluh-puluh kilometer dari hiruk-pikuk pusat Kota Lhokseumawe, berdiri Rumah Cut Meutia—sebuah replika tempat tinggal sang pahlawan nasional yang kini diselimuti kesunyian yang mencekam.
Melangkahkan kaki ke pekarangan rumah adat Aceh (rumoh Aceh) ini terasa seperti melintasi lorong waktu. Namun, alih-alih disambut riuh pemandu atau ramainya wisatawan, jurnalis hanya mendapati hening. Angin pegunungan Keureutoe sesekali berembus, menggoyang dedaunan dan memecah keheningan tempat yang menjadi saksi bisu lahirnya seorang srikandi penentang kolonialisme Belanda.

Terasing di Tanah Sendiri
Menuju ke situs bersejarah ini bukan perkara mudah. Akses jalan yang relatif sempit dan lokasinya yang jauh di pedalaman membuat Rumah Cut Meutia seolah terasing dari peta utama wisata sejarah di Serambi Mekkah. Hanya ada hamparan sawah, perkebunan warga, dan jalanan sepi yang menemani perjalanan sepanjang puluhan kilometer dari jalan lintas nasional Medan–Banda Aceh.
Saat tiba di lokasi, nuansa magis sekaligus pilu langsung terasa. Rumah panggung berstruktur kayu kehitaman dan tiang-tiang penyangga yang tinggi itu berdiri anggun, namun sunyi. Tangga kayu yang biasa dinaiki pengunjung terasa dingin.
“Beginilah kondisinya sehari-hari, sepi. Kecuali pada hari libur nasional atau kunjungan anak sekolah—itu pun jarang-jarang,” ujar salah seorang warga lokal yang melintas di sekitar situs.
Di bawah kolong rumah, terdapat beberapa peninggalan replika alat penumbuk padi tradisional Aceh (jeungki) yang berdebu. Minimnya papan informasi interaktif maupun pemandu wisata yang berjaga secara berkala membuat pengunjung harus meraba-raba sendiri imajinasi tentang bagaimana Cut Meutia dahulu menyusun strategi perang di dalam rumah ini.

Menolak Lupa Srikandi Keureutoe
Di dalam bangunan utama, ruangan terasa lengang. Foto-foto dokumentasi perjuangan, lukisan wajah Cut Meutia dengan tatanan sanggulnya yang ikonik, serta silsilah keluarga tergantung di dinding kayu. Di ruangan inilah dahulu Cut Meutia bersama suaminya, Teuku Chik Tunong (dan kemudian Pang Nanggroe), mengobarkan semangat perlawanan melawan Kaphe Belanda.
Situs ini bukan sekadar bangunan kayu, melainkan simbol harga diri dan perlawanan tanpa tunduk. Cut Meutia, yang gugur menembus peluru Belanda pada 24 Oktober 1910 di belantara Alue Kurieng, memilih syahid ketimbang menyerah.
Namun kini, ruang ingatan kolektif bangsa terhadapnya seolah memudar, berbanding lurus dengan sepinya kompleks rumah peninggalannya. Potret rumah yang terasing ini menjadi pengingat yang getir: bahwa merawat ingatan sejarah sering kali lebih sunyi daripada perjuangan merebut kemerdekaan itu sendiri.
Sore mulai temaram di Pirak Timur. Rumah Cut Meutia perlahan tenggelam dalam bayang-bayang senja, kembali mendekap kesepiannya di tengah rimba sejarah yang kian jarang dijenguk generasi masa kini.(*)
Oleh: Zulfadli Kawom



