BANDA ACEH – Perjalanan hidup di dunia seni tidak selalu berjalan di atas karpet merah. Berawal dari ajakan almarhum Joel Hendra untuk memperdalam dunia seni, berlanjut dengan bayaran hanya sebungkus nasi saat mengajar pantomim, ketekunan akhirnya membuahkan hasil luar biasa yang membanggakan dunia pendidikan dan kebudayaan daerah.
Kisah inspiratif ini datang dari seniman Dr. Rasyidin, S.Sn., M.Sn. yang dikenal luas dengan nama panggung Rasyidin Wig Maroe. Di balik konsistensinya di bidang seni peran, tersimpan rekam jejak pendidikan akademis yang ditempuh dengan penuh dedikasi tinggi.
Jenjang pendidikan tinggi seni tersebut bermula dari bangku S1 di Jurusan Teater STSI Bandung, kemudian dilanjutkan ke jenjang S2 di Program Pascasarjana Pengkajian/Penciptaan ISI Padangpanjang, hingga berhasil meraih gelar tertinggi dengan menyelesaikan studi S3 Program Pascasarjana Doktoral di ISI Surakarta.
Bekas tempaan ilmu akademik dari guru-guru profesional, akademisi tingkat nasional, serta perguruan tinggi seni ternama itu kemudian dibawa pulang untuk membina sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di kampung halaman orang tuanya.
Hebatnya, meski sekolah tersebut tidak memiliki fasilitas penunjang kebudayaan yang memadai, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah. Berkat kegigihan dan metode pembinaan yang konsisten, sekolah di pelosok tersebut berhasil mencatatkan prestasi gemilang sebagai pemenang Lomba Pantomim Tingkat SD/SMP selama enam kali berturut-turut tanpa jeda.
Bagi Rasyidin Wig Maroe, dunia pantomim kini telah menjelma menjadi ruang ikhtiar dan pencari rezeki di tanah Aceh, negeri di ujung Sumatera.
Dunia seni tidak hanya sekadar hobi, melainkan telah mendidik dan membentuk karakternya hingga hari ini.
Semangat pantang menyerah ini selaras dengan semboyan yang dipegang teguh dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater NOL Universitas Syiah Kuala (USK):
“DARI TIADA MENJADI ADA. Nol hanya sebuah angka kosong, Nol hanyalah sebuah angka awal untuk melangkah. Tanpa Nol, semua tak akan menjadi.”
Perjalanan ini adalah bukti nyata dari keberanian dalam mengalahkan rasa takut yang tak berujung. Sekalipun berjalan di tengah keterbatasan-bahkan tanpa dukungan pembiayaan yang memadai dari pemerintah daerah-karya dan prestasi tetap mampu diwujudkan.
“Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih yang sangat mendalam kepada orang tua saya, ibu yang selalu mendoakan saya, dan istri yang selalu menyemangati saya. I love you untuk semua, termasuk guru saya Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn.—salah seorang senior UKM Nol yang juga dosen di Jurusan Teater ISI Padangpanjang—serta seluruh senior dan sahabat saya,” ungkapnya penuh syukur.
Kisah ini menegaskan bahwa kemiskinan fasilitas bukanlah alat ukur utama sebuah pencapaian, melainkan tekad untuk bangkit. “Kami terlahir dari rahim UKM NOL USK,” pungkasnya penuh bangga.[]
