Lhoksukon – Satu lagi kabar membanggakan datang dari lintasan air. Tim dayung Aceh Utara berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meloloskan seluruh atletnya ke ajang multi event empat tahunan, Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV tahun 2026, yang akan digelar di Aceh Jaya.
Keberhasilan ini diraih usai penampilan solid dalam babak kualifikasi, yakni Pra PORA IV Cabang Dayung, yang berlangsung pada 29 Juni hingga 4 Juli 2025 di Pelabuhan Lama, Teluk Sinabang, Kabupaten Simeulue.
Sebanyak 14 atlet, terdiri atas 11 putra dan 3 putri mengibarkan bendera Aceh Utara di hampir seluruh nomor yang dipertandingkan, mulai dari Kayak tunggal, ganda, hingga empat orang. Konsistensi dan kekompakan tim sejak hari pertama menjadikan mereka satu dari 11 kontingen yang memastikan tiket ke PORA 2026.
Ketua KONI Aceh Utara, M. Dahlan Ishak atau yang akrab disapa Maklan, tak menutupi rasa bangganya. Ia menyebut keberhasilan ini bukan semata hasil keberuntungan, tetapi buah dari proses panjang yang dijalani atlet dan tim pelatih dengan dedikasi tinggi.
“Alhamdulillah, seluruh atlet dayung kita lolos ke PORA. Ini bukan sekadar capaian teknis, ini simbol bahwa semangat juang atlet Aceh Utara masih menyala. Terima kasih untuk seluruh tim, pelatih, dan juga dukungan masyarakat. Target selanjutnya, tentu saja, medali emas sebanyak mungkin,” ujar Maklan, usai menerima laporan resmi dari pelatih kepala tim dayung.
Berkompetisi di wilayah pesisir barat Aceh bukan perkara ringan. Selain jarak yang jauh, kontur ombak dan cuaca di Teluk Sinabang kerap tak ramah bagi pendayung luar daerah. Namun, atlet Aceh Utara tampil tenang, taktis, dan disiplin.
Mereka tak hanya lolos, tapi juga mencatatkan prestasi impresif di beberapa nomor. Di antaranya Kayak-4 500 meter putra, di mana empat pendayung Aceh Utara finis di urutan ketiga setelah Aceh Besar dan Bireuen. Di nomor Kayak-2 200 meter putra, pasangan Mulyadi dan M. Fatahillah meraih posisi runner-up dengan catatan waktu 00:37.71—hanya berselisih tipis dari duo Aceh Timur di tempat pertama.
Bagi pelatih, Eri Hamdani, capaian ini bukan kebetulan. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai hasil nyata dari program latihan berjenjang dan konsisten yang telah diterapkan sejak awal tahun.
“Kami datang ke Simeulue dengan target jelas, semua atlet lolos. Alhamdulillah tercapai. Tapi kami sadar, lolos itu baru permulaan. Perjuangan yang sesungguhnya ada di PORA tahun depan. Fokus utama kami ke depan adalah peningkatan teknik, kekuatan, dan taktik lomba,” ujar Eri, yang sehari-hari juga membina atlet di Krueng Cunda, Lhokseumawe.
Cabang olahraga dayung sudah lama menjadi andalan Aceh Utara. Sejak 2006, kontingen dayung kabupaten ini tak pernah absen membawa pulang medali emas dari ajang PORA. Tradisi ini dibangun dari akar pembinaan yang kuat dan kontinuitas latihan yang dijalankan dengan disiplin tinggi.
“KONI Aceh Utara bersama pelatih dan pengurus PODSI kabupaten telah bekerja keras membina talenta muda dan memanfaatkan sumber daya yang ada,” tambahnya.
Sebagian besar atlet yang tampil di Simeulue adalah wajah-wajah berpengalaman yang telah terbiasa mengarungi sungai dan laut dalam keseharian mereka. Modal alami ini diperkuat dengan metode pelatihan terpadu, didukung penuh oleh KONI dan pengurus PODSI Aceh Utara.
Pada Pra PORA IV kali ini, cabang dayung mempertandingkan 29 nomor: 18 Kayak, 9 Dragon Boat, dan 2 Rowing. Total 219 atlet dari 10 kabupaten/kota bertarung memperebutkan tiket ke PORA, sementara Aceh Jaya sebagai tuan rumah mendapat jatah otomatis. Aceh Besar tetap menunjukkan dominasinya, namun Aceh Utara membuktikan bahwa mereka mampu bersaing, bahkan dalam kondisi jauh dari zona nyaman.
Lolos ke PORA bukan titik akhir. KONI Aceh Utara memastikan proses pembinaan tidak akan berhenti di Simeulue. Menurut Maklan, pihaknya segera melakukan evaluasi teknis bersama pelatih untuk merancang strategi lanjutan.
“Kita tidak ingin atlet hanya jadi penggembira di PORA. Kami sudah siapkan rencana jangka menengah dan pemusatan latihan di perairan terbuka. Fokus utama adalah meningkatkan performa agar mampu bersaing di zona medali,” ujar Maklan.
Ia juga menegaskan, keberhasilan tim dayung harus menjadi inspirasi bagi cabang olahraga lain di Aceh Utara yang masih berjuang di babak kualifikasi. Menurutnya, keberhasilan bukan semata karena bakat, tapi hasil dari proses panjang yang dijalani dengan semangat dan disiplin tinggi.
Dalam dunia olahraga, kemenangan tidak selalu diukur dari podium. Keberanian untuk bersaing, konsistensi latihan, serta kematangan mental adalah indikator penting menuju prestasi berkelanjutan. Hal inilah yang kini coba ditanamkan KONI Aceh Utara di setiap cabang olahraga.
Tim dayung telah menunjukkan kapasitas itu. Dari sesi latihan di Krueng Cunda hingga lintasan di Simeulue, semangat untuk membawa harum nama daerah tak pernah surut. Di balik peluh dan letih, ada semangat kolektif untuk mewujudkan Aceh Utara yang lebih berprestasi.
Keberhasilan ini menandai satu langkah besar. Tapi jalan menuju panggung PORA 2026 masih panjang. Persiapan teknis, manajerial, dan mental akan jadi kunci dalam menyongsong laga sesungguhnya di Aceh Jaya.
Dukungan dari semua elemen, pemerintah daerah, masyarakat, dan stakeholder olahraga diperlukan agar api semangat para atlet tak padam di tengah jalan.
Dengan lolosnya seluruh atlet dayung, Aceh Utara kini punya peluang besar menambah pundi-pundi medali di ajang PORA mendatang. Tapi lebih dari itu, mereka telah mengajarkan bahwa kerja keras, kebersamaan, dan keyakinan adalah fondasi utama dalam meraih prestasi.[Adv]