Acèh Utara — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai sela-sela kegiatan undangan Kesbangpolinmas Kabupaten Aceh Utara dengan tajuk “Ketahanan Budaya”. Di sela acara tersebut, sebuah momen berharga dan telah lama dinantikan terjadi ketika pegiat seni dan budaya dapat bersilaturahmi langsung dengan seniman hikayat legendaris asal Aceh Utara, Tgk. Ibrahim PMToh.
Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban ini menjadi ruang temu rindu sekaligus nostalgia perjalanan panjang dunia seni tutur tradisional Aceh. Dalam perbincangan tersebut, Tgk. Ibrahim sempat mengenang kembali sosok-sosok penting di masa lalu, termasuk Tgk. Jafar PMToh Krueng Geukuh yang juga merupakan murid dari almarhum Tgk. Adnan PMToh. Berdasarkan informasi dari Tgk. Ibrahim, Tgk. Jafar telah lama berpulang ke rahmatullah.

Sebagai informasi, Tgk. Ibrahim PMToh merupakan salah satu murid langsung dari maestro hikayat Tgk. Adnan PMToh. Perjalanan kekaryaan Tgk. Ibrahim pada era 1990-an turut mendapat perhatian, dukungan, serta arahan dari Bapak H. Dahlan, seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada masa itu, untuk terus melestarikan hikayat sebagai tradisi luhur masyarakat Aceh yang sarat akan pesan moral dan nasihat bijak dengan ungkapan yang halus.
Penjaga Warisan Sastra dan Rekam Jejak Internasional
Dedikasi Tgk. Ibrahim dalam dunia kesastraan tradisional terbukti dari koleksi naskah langka yang disimpannya hingga kini, salah satunya adalah Hikayat Raja-raja Pasai
– sebuah naskah bersejarah yang kini menjadi buruan para kolektor naskah kuno. Meskipun naskah yang berada di kediamannya merupakan salinan (fotokopi) yang diperoleh langsung dari sang guru, Tgk. Adnan, pada tahun 1990-an, keberadaannya menjadi saksi bisu otentisitas warisan sastra masa lalu.
Nama besar dan dedikasi Tgk. Ibrahim PMToh bahkan telah diabadikan dalam dunia pendidikan nasional. Namanya dimuat sebagai referensi pembelajaran sastra, khususnya pada materi biografi tokoh hikayat, dalam buku berjudul 22 Jenis Teks dan Strategi Pembelajarannya di SMA-MA/SMK karya penulis nasional Dr. E. Kosasih, M.Pd., dan Endang Kurniawan, M.Pd. Buku tersebut kini menjadi rujukan pengenalan pembacaan hikayat di sekolah-sekolah melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Tidak hanya dikenal di tingkat lokal dan nasional, rekam jejak internasional Tgk. Ibrahim juga sangat mengesankan. Pada tahun 1976, beliau pernah tampil membawakan seni hikayat di Negeri Kincir Angin (Belanda). Hingga saat ini, beliau juga masih setia menyimpan sebuah biola klasik asal Italia yang merupakan kenang-kenangan dan pemberian dari UNESCO atas dedikasinya di bidang seni budaya.
Pertemuan ini diharapkan dapat semakin membakar semangat generasi muda Aceh untuk terus menggali, merawat, dan melestarikan warisan budaya lisan seperti hikayat agar terus hidup di tengah dinamika zaman modern.[]
