Search

11 Mei 2026

|

Daerah

Bahasan Isu JKA hingga Ekonomi, Mualem Kumpulkan Ulama dan Tokoh di Meuligoe.

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menggelar pertemuan silaturahmi bersama para ulama kharismatik dan tokoh masyarakat Aceh di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Sabtu 9 Mei 2026.

Pertemuan ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat sinergi antara ulama dan umara (pemerintah) demi mewujudkan Aceh yang lebih Islami.

Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Menguatkan Sinergi Ulama dan Umara untuk Aceh yang Islami” tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Kehadiran Tokoh Penting dan Ulama Kharismatik

Acara ini turut dihadiri oleh figur-figur sentral Aceh, di antaranya:

Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al-Haytar.

Ulama Kharismatik Aceh, seperti Abuya Mawardi Wali, Abon Arongan (Tgk H. Sofyan Mahdi), Tgk H. Daud Hasbi, Abon Paloh Kaye Kunyet, serta Tgk H. Muzakkir Abdullah (Waled Lapang).

Unsur Forkopimda, termasuk Kapolda Aceh, perwakilan Pangdam IM, serta pejabat tinggi lainnya.

Pemerintah & Instansi, meliputi Sekda Aceh, para kepala SKPA, pimpinan lembaga vertikal, perbankan, dan perwakilan Imam Masjid Raya Baiturrahman.

Dalam sambutannya, Gubernur Muzakir Manaf menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada para ulama yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Mualem mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan keinginan yang sudah lama direncanakan.

“Silaturahmi ini sudah lama kami niatkan, dan Alhamdulillah hari ini baru dapat terlaksana. Kami sangat berterima kasih atas kehadiran para ulama dan seluruh tokoh masyarakat,” ujar Gubernur.

Mualem menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum penting untuk menyatukan langkah antara pemerintah dan ulama.Menurutnya, kolaborasi yang kuat sangat dibutuhkan untuk menghadapi dinamika pembangunan dan tantangan sosial di Aceh saat ini.

Menyoroti Isu Strategis Aceh

Di hadapan para tokoh, Mualem secara terbuka memaparkan sejumlah isu krusial yang tengah dihadapi Aceh, antara lain:

Penanganan dampak bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah di Aceh.

Keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) bagi masyarakat.

Tantangan kondisi ekonomi masyarakat serta keterbatasan anggaran daerah yang memengaruhi percepatan pembangunan.

Gubernur mengakui bahwa kondisi keuangan daerah saat ini cukup menantang. Oleh karena itu, ia berharap doa dan nasihat dari para ulama agar pemerintah tetap mampu menjalankan amanah dalam membawa kesejahteraan bagi rakyat Aceh.[]