Aceh | Bink-vho, grup musik diaspora asal Aceh, kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Setelah tampil di berbagai negara, band ini kembali diundang untuk manggung di luar negeri. Pada 29 s/d 31 Agustus 2025, Bink-vho tampil di Johor, Malaysia, sebelum melanjutkan undangan ke Belanda pada November 2025 dan juga ke Rusia.
Meski begitu, keterbatasan dana membuat mereka harus membatalkan jadwal penampilan di Perancis dan Filipina bulan ini. Namun, semangat untuk terus berkarya tidak pernah surut. Bink-vho tetap konsisten membawa nama Aceh dan Indonesia ke kancah dunia.
“Biasanya kami melatih diaspora Indonesia untuk belajar tari Saman dan memainkan alat musik tradisi Aceh,” kata Zulfadli Kawom, vokalis sekaligus pemain rapai. Ia juga mengenang masa-masa sulit saat pandemi Covid-19, ketika semua kegiatan manggung terhenti total.
Menurut Zulfadli, perlakuan terhadap seniman di luar negeri jauh lebih profesional dibandingkan di tanah air. “Di sini (Aceh), masalah klasiknya honor tidak jelas dan kontrak tidak profesional. Di luar negeri, kerja keras kami lebih dihargai,” ujarnya.
Tema lagu-lagu Bink-vho banyak terinspirasi dari cerita rakyat, mitos, sejarah, dan budaya Aceh. Meski minim dukungan pemerintah, mereka tetap berkomitmen mempromosikan seni, budaya, dan pariwisata Aceh ke dunia internasional. “Kami sudah komitmen mewakafkan diri untuk promosi seni dan budaya Aceh,” tegas Zulfadli.
Sejarah dan Filosofi Bink-vho
Bink-vho didirikan pada 1980-an di Pusong Lama, Kota Lhokseumawe. Nama Bink-vho (atau Bieng Pho) diambil dari nama seekor kepiting dalam hikayat Banta Amad. Filosofi nama ini menggambarkan kebersamaan dan solidaritas: kepiting Bink-vho selalu memanggil teman-temannya untuk menikmati rezeki bersama dan saling melindungi saat ada bahaya.
Ikatan kuat ini tetap menjadi dasar kebersamaan para personil Bink-vho, yang percaya bahwa hanya kematian yang bisa memisahkan mereka.
Regenerasi dan Kiprah Global
Setelah beberapa personil awal meninggal dunia, Bink-vho mengalami regenerasi. Tahun 2005, Teuku Emi Syamsyumi bergabung sebagai vokalis baru dan membawa semangat segar. Grup ini sempat vakum pada 2008, namun kembali aktif sejak 2015 dengan merilis album perdana berjudul “Cut Nyak Dhien”.
Kini, Bink-vho tengah menyiapkan album nasional pertama bertajuk “She Love Me” bekerja sama dengan label Luncai Emas dari Malaysia.
Formasi Personil Bink-vho Saat Ini
- Teuku Emi Syamsyumi: Vokal 1 & Gitar 2
- Zulfadli Kawom: Vokal 2 & Rapai
- Fadlul Sunni: Lead Gitar
- Munzil: Bass
- Erwin: Rapai
- Romi Pasla: Genderang
- Iqbal: Serune Kale
Keunikan Bink-vho juga terletak pada formasi ganda: satu format band untuk lagu-lagu nasional dan satu format khusus untuk musik tradisional. Personilnya tersebar di Malaysia, Australia, dan Lhokseumawe. Mereka rutin berlatih secara daring, lalu mengadakan latihan intensif beberapa hari sebelum pertunjukan.
Keberagaman latar belakang etnis personil—mulai dari Aceh, Jawa, Sunda, hingga Padang dan Batak—menjadi kekuatan tersendiri yang memperkaya warna musik Bink-vho. Penampilan unik mereka kerap membuat penonton luar negeri mengira band ini berasal dari kawasan Mediterania, India, Pakistan, atau Timur Tengah.
Pada penampilan khusus di Austin Stadium, Johor, 28 Agustus, Bink-vho tampil bersama KanDe Band dan Sanggar Seni Cut Meutia. Meski markas band ini kerap berpindah antara Lhokseumawe, Banda Aceh, Malaysia, dan Australia, pusat manajemen Bink-vho kini berada di Lhoksukon, Aceh Utara.[]